Kerlip Lampu di Tengah Belantara

Penduduk desa di pucuk Gunung Halimun bergotong-royong membuat pembangkit tenaga listrik. Setiap rumah hanya mendapat jatah 15 sampai 20 watt. Pernah ada keinginan menambah jatah dengan menggunakan tenaga diesel, tetapi dibatalkan. “Kami khawatir suara diesel akan mengganggu kehidupan hewan di sini,” kata seorang warga desa.

Sungai menjadi berkah bagi masyarakat Sukabumi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Derasnya tekanan air sungai dijadikan sebagai pembangkit tenaga listrik oleh penduduk setempat. Yang dihasilkan memang hanya lampu berkekuatan watt kecil, tetapi ini mencerminkan keterpaduan mereka dengan alam, termasuk sikap tidak ingin mengganggu binatang.

Dulu kawasan taman nasional ini bernama Cagar Alam Gunung Halimun. Sejak tahun 1992 statusnya resmi menjadi Taman Nasional Gunung Halimun. Kawasan ini selalu diselimuti kabut. Sejuknya udara yang masih bersih di sana tampaknya membawa berkah tersendiri bagi masyarakat setempat untuk tetap berpikir jernih.

Curah hujan cukup tinggi di kawasan pegunungan seluas 40.000 hektare ini, yakni rata-rata 4.000-6.000 mm per tahun. Musim hujan biasanya berlangsung pada bulan Oktober hingga April. Dari kawasan ini mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering, walau pada musim kemarau. Sungai-sungai itu meliuk-liuk di celah punggung perbukitan, bagaikan ular raksasa di tengah belantara. Air sungai yang jernih inilah yang digunakan oleh penduduk sekitarnya untuk keperluan sehari-hari, seperti untuk memasak, mencuci, atau mandi. Lebih dari itu, derasnya arus sungai dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Sebagai kawasan ekowisata, TNGH terbagi atas tiga wilayah: Halimun Utara, Halimun Timur, dan Halimun Selatan. Di Halimun Utara mengalir beberapa sungai besar, seperti Ci Berang atau Ci Ujung. Sungai besar di Halimun Timur adalah Ci Kaniki, sedangkan Halimun Selatan namanya Ci Sukawayana dan Ci Mantaja.

Di kawasan TNGH ini terdapat pula beberapa air terjun. Curug, kata orang disana. Nah, dengan adanya curug inilah air sungai menjadi kian deras arusnya. Sejauh ini kabel Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum mencapai desa-desa di Taman Nasional ini. Penduduk lalu berswadaya membuat turbin pembangkit listrik dengan dengan memanfaatkan tenaga air.

Lumayan untuk penerangan,” kata Suhara, pemuka warga Desa Citalahap Sentral, Halimun Timur. Menurutnya, semula mereka berencana menggunakan tenaga diesel, tetapi kemudian dibatalkan karena suara diesel pasti membuat gaduh dan mengganggu kehidupan hewan disini.

Selain suara bising, ya, biayanya pun mahal. Pilihan jatuh pada mesin turbin, kata Rahman Dedi, Manajer lapangan Yayasan Ekowisata Halimun (YEH). Semula, diawal tahun 1980-an, mereka menggunakan keuren, peralatan sederhana berupa sebuah dinamo berkekuatan kecil dan roda putaran dari kayu. Lambat laun alat ini tidak lagi digunakan.

Lantas dari mana masyarakat setempat dapat ide memakai turbin? “Dulu ada anggota LSM yang datang ke sini dan memberikan petunjuk cara membuat turbin,” kata Dedi.

Selanjutnya, Suhara yang mengkoordinir pembuatan mesin turbin tersebut. Sehar-hari ia menjadi Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Bersama kelompoknya, Suhara merancang sendiri turbin itu. Biaya untuk satu mesin sekitar 2 juta rupiah yang dihimpun dari masyarakat.

Listrik yang dihasilkan satu mesin turbin bisa menerangi 10 rumah. Jatahnya memang masih terbatas. Satu kepala keluarga hanya dapat 15 sampai 20 watt. “Jadi, ya, hanya untuk satu bola lampu. Bisa juga sih dua bola lampu, tapi sinarnya redup,” Jelas Suhara.

Lain halnya di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cisolok, Halimun Selatan. Desa ini berpenduduk sekitar 600 kepala keluarga, sempat punya pembangkit listrik tenaga Air (PLTA) tahun 1997. Ini dibuat atas kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Jepang.

Kita senang waktu PLTA ini masih ada,” ujar Didin, Desa Sinarasa. Pembangkit listrik berkekuatan besar ini terhenti begitu saja tahun 1999. Masyarakat lalu beralih pada mesin turbin yang berkekuatan kecil. Beberapa keluarga berkelompok membuat turbin di sepanjang tepian sungai secara swadaya.

Di Halimun Utara dana pengadaan mesin tersebut sepenuhnya berasal dari pemerintah daerah, kata Dedi. Menurut manajer lapangam YEH ini, di Desa Ciptarasa mesin turbinnya berkekuatan 50.000 watt. Terpakai baru separuh. “Tapi bila ada acara besar, kekuatan itu tidak cukup,” kata Dedi pula. Tiap bulan masyarakat dianjurkan membayar 5.000 rupiah. Dana itu digunakan sebagai dana simpanan bila terjadi kerusakan.

Lantaran bergantung pada aliran sungai, ya, begitulah, ketika air surut, penerangan pun merdup, bahkan mati. Oleh sebab itu, masyarakat setempat sangat menjaga alam sekitarnya sebagai sahabat. “Kalau buka kita siapa lagi?,” ujar Suhara yang dipercaya oleh Abah Anom, tokoh masyarakat setempat, untuk mengelola mesin turbin di sana.

Rusman

*Tulisan ini telah dipublikasikan pada Buku Lokakarya dan Lomba Penulisan Keanekaragaman Hayati 2000. Kerjasama Lembaga Pers Dr. Soetomo dan Yayasan Kehati Indonesia.

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Lingkungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s