Menunggu Angklung Sebagai Warisan Budaya Dunia

Alat musik Angklung merupakan warisan budaya asli Indonesia yang mesti dilestarikan. Setelah batik mendapat pengakuan dari UNESCO (Badan PBB yang membidangi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan) sebagai warisan asli Indonesia, kini angkluk menunggu dikukuhkan sebagai wirisan budaya dunia.

Alat musik yang terbuat dari bambu ini memang unik, beragam suara merdu bisa terdengar. Jadi tidak salah bila 26 Agustus 2009 lalu pemerintah Indonesia secara resmi mendaftarkan alat musik angklung ini ke UNESCO. Dan saat ini pemerintah dan bangsa indonesia sedang menunggu pengukuhan secara resmi dari UNESCO.

Pengukuhan angklung oleh UNESCO sangat diperlukan, mengingat angkluk telah menjadi warisan budaya Indonesia sejak turun temurun. Langkah ini juga untuk membuktikan bahwa angklung sangat berperan terhadap kelangsungan hidup suku bangsa di Indonesia, terutama Jawa Barat sehingga harus dilestarikan.

Apabila angklung lulus dalam proses verifikasi maka UNESCO akan mengeluarkan sertifikat yang mengakui bahwa angklung adalah warisan budaya asli bangsa Indonesia, menyusul batik yang sudah dikukuhkan sebelumnya.

Kelangsungan kesenian dan kebudayaan Jawa Barat didominasi oleh alat yang berbahan dasar bambu saat ini tengah dihadapkan pada percepatan dunia industri, sehingga membutuhkan inovasi dan kreativitas. Sepanjang tahun 2008, angklung telah menjadi alat promosi budaya dengan berbagai inovasi yang dilakukan dalam seni pertunjukan.

Sejarah Singkat Asal Usul Angklung

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Tanah Sunda yang terbuat dari bambu. Alunan bunyi yang keluar dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) itu menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.

Jenis bambu- awi orang sunda menyebutnya, yang biasa digunakan sebagai alat musik angklung adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih).

Sejak masa kerajaan Sunda, angklung sudah digunakan masyarakat sunda sebagai pengunggah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan. Itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung. Sejak itu popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak.

Dalam perkembangannya, angklung memiliki beragam jenis dan masih bertahan hingga kini. Misalnya angklung gubrag di Jasinga, Bogor merupakan salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Hingga kini angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Sejak tahun 1996, Udjo Ngalagena—tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Ragam Angklung

Angklung Kanekes

Angklung berada di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

Angklung Dogdog Lojor

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Paner Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun. Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Dukungan Masyakarat Indonesia Diperlukan

Rasa optimis dan dukungan agar angklung menjadi warisan budaya dunia sangat diperlukan dari bangsa Indonesia. Setelah batik, berharap UNESCO mengukuhkan angklung sebagai warisan dunia asli budaya Indonesia. Sehingga tidak ada lagi klaim dari negara lain atas angklung.

Dalam kesempatan lain, Taufik Hidayat Udjo, Direktur Utama Saung Angklung Udjo, merasa optimistis angklung akan menjadi alat musik warisan dunia. Menurutnya, data yang diberikan ke UNESCO sangat komprehensif. “Goals-nya akan dirayakan di JCC Jakarta, Saung Angklung Udjo akan bekerja sama dengan Dwiki Darmawan, dan targetnya RI 1 hadir dan memainkan angklung,” katanya seperti dikutip VIVAnews.

(rusman-GFI/ wikipedia indonesia/Vivanews)
Penulis : Rusman/Global Future Institute

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s