Hikmah Ramadhan; Hasil Puasa Adalah Sedikit

Pada malam Mikraj, yaitu malam ketika Rasulullah Saw dinaikkan ke langit, Allah Swt bertanya kepadanya, “Wahai Ahmad, apakah engkau tahu hasil dari puasa?”

Rasulullah menjawab, “Tidak

Allah Swt berfirman, “Hasil dari puasa adalah sedikit makan dan sedikit bicara.Hal ini akan menimbulkan kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan, lahirlah makrifat dan keyakinan. Ketika seorang hamba mencapai keyakinan, dia tidak lagi memiliki kekhawatiran bagaimana hidupnya akan dilalui, baik dalam kesusahan maupun kemudahan. Dalam kondisi seperti ini, dia telah mencapai keridhaan Kami.”

Hikmah atau kebijaksanaan adalah sebuah kemampuan yang tinggi, yang tidak mudah untuk dicapai. Orang-orang yang berpuasa, ketika menahan haus dan lapar, mereka juga akan terlatih pula untuk mengontrol hawa nafsunya. Sebaliknya, rasa kenyang dan berlebih-lebihan dalam makan akan menyebabkan matinya cahaya makrifat dan pikiran. Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah mengenyangkan diri, karena akan mematikan cahaya makrifat di dalam jiwa kalian.”

* * *

Suatu hari, kaum Muslimin di kota Mekah berkumpul dan saling membicarakan sebuah ayat yang baru diwahyukan kepada Rasulullah Saw, yaitu ayat mengenai janji Allah Swt bahwa kaum Muslimin akan dimasukkan ke dalam surga. Ayat ini menimbulkan kegembiraan di hati mereka. Dalam membicarakan ayat ini, sebagian di antara mereka saling bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Suara tertawa yang sedemikian keras itu terdengar oleh Rasulullah dan beliau pun mendatangi sekelompok kaum Muslimin itu. Melihat kedatangan Rasulullah, merekapun terdiam. Rasulullah dengan lembut bersabda, “Janganlah kalian tertawa seperti itu.” Lalu Rasul pun melangkah pergi.

Tiba-tiba, Rasulullah menghentikan langkah beliau dan kemudian kembali menemui kelompok kaum Muslimin itu. Rasulullah bersabda, “Ketika aku menjauh dari kalian, Jibril datang kepadaku dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah berfirman, mengapa kau membuat hambaku menjadi putus harapan?” Lalu, turunlah ayat ke-49 surat al-Hijr, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

* * *

Maurice Meterlink, seorang ilmuwan Belgia, mengatakan, “Manusia di zaman yang lampau hidup secara lebih bersahabat dan lebih saling memperhatikan satu sama lain. Dewasa ini, bila dibandingkan dengan orangtua kita dahulu, kita lebih sedikit merasa terpengaruh oleh musibah atau kesusahan yang menimpa orang lain. Satu-satunya faktor yang dapat menyebabkan perasaan persabahatan ini menjadi lebih kuat dan mendorong manusia ke arah kebaikan dan kecintaan terhadap orang lain, adalah agama. Jika keyakinan terhadap agama telah lenyap, rasa cinta dan empati kepada sesama pun akan lenyap pula.

Dalam masalah ini, William James dalam bukunya “Agama dan Psikologi” menyatakan, “Agama adalah keyakinan terhadap sebuah sistem yang tidak kasat mata di antara berbagai fenomna yang ada di alam, dan pekerjaan terbaik untuk kita lakukan adalah berjalan selaras dengan sistem ini. Dasar dari doa dan munajat adalah peningkatan secara teratur manusia ke arah Tuhan. Tujuan pertama dari doa adalah menghapuskan rasa cinta dunia dalam hati karena keterikatan dengan dunia menghalangi pemusatan pikiran. Agama memberikan kepada kita perasaan untuk memahami hakikat ketuhanan yang secara langsung memiliki hubungan dengan kita. Jika pengelihatan terhadap hakikat ini tidak kita miliki, tidak ada satupun kemampuan kita yang memiliki manfaat bagi kita.”

Para dokter meyakini bahwa manusia yang berpuasa sedang bergerak dalam jalan yang sehat dan selamat. Penyebab utama dari sebagian besar penyakit adalah ketidakseimbangan pola hidup dan makan. Puasa merupakan salah satu obat yang terbaik bagi berbagai penyakit, melalui penciptaan keseimbangan dalam tubuh manusia. Robert Thompson seorang ahli tanaman obat, mengatakan, “Nabi Muhammad kepada para pengikutnya memerintahkan agar mereka melakukan puasa selama tiga puluh hari dalam setahun. Isa al-Masih juga menasehati pengikutnya agar melakukan puasa demi kesehatan mereka. Tujuan dari kebijaksanaan Tuhan ini adalah menciptakan kesempatan bagi organ-organ tubuh untuk beristirahat setelah sebelumnya selalu bekerja keras untuk mencerna makanan.”

Atas dasar itulah, Robert Thomson menggunakan puasa sebagai salah satu metode pengobatannya. Selanjutnya Thomson mengatakan, “Sebagian orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang yang tidak makan bisa bertahan hidup? Namun, berbeda dengan pandangan sebagian besar orang, konsep puasa merupakan cara mendasar untuk semua orang yang ingin terjauh dari penyakit. Orang yang sehari dalam seminggu berpuasa secara bertahap akan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang berpuasa seminggu dalam setahun. Pada hakikatnya badan sebagai sebuah mekanisme alami berusaha untuk menciptakan keseimbangan dalam tubuh dan puasa dapat membuat keseimbangan ini menjadi lebih bagus.” Thomson bahkan mengutip salah satu hadis Rasulullah, yaitu “Perut adalah tempat berbagai penyakit dan puasa adalah dasar dari obat yang menyembuhkan.” (IRIB Indonesia)

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s