Tahun 2013, Gempa dan Gunung Meletus Silih Berganti

NEFOSNEWS, Jakarta – Bencana alam melandanya.. Tiada seorangpun kuasa menekan.. Bencana alam melandanya.. Miskin kaya kena petaka yang sama. Lirik lagu “Bencana Alam”, milik Iwan Fals itu, tepat untuk mengingat berbagai bencana di 2013.

Gempa bumi agaknya memang akrab dengan pesisir selatan Pulau Sumatera dan Jawa. Pada awal 2013, tepatnya 22 Januari, gempa berkekuatan 6,0 Skala Richter (SR) mengguncang Aceh. Menghancurkan ratusan rumah dan bangunan lainnya.
Bencana gempa ini mengakibatkan satu orang tewas. Pusat gempa berada pada 15 kilometer barat daya Banda Aceh dengan kedalaman 84 km. Namun, getarannya terasa hingga Pidie, Lhokseumawe, hingga Aceh Timur. Setelah itu, terjadi beberapa kali gempa susulan berkekuatan kekuatan 5,1 SR. Selebihnya tidak dirasakan, gempa hanya berkekuatan berkisar antara 3 hingga 4 SR.

Setelah gempa, di tanah air muncul bencana lainnya. Pada Sabtu (2/2/2013), gunung api Rokatenda di Pulau Palue, Kabupaten Sikka bagian utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meletus. Terjadi pukul 23.45 WITA dan menimbulkan semburan abu vulkanik yang mencapai ketinggian kurang lebih 5 km. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT menyebutkan, tidak ada korban jiwa.

Namun, sedikitnya 2.000 orang dari Kecamatan Palue di sekitar Gunung Rokatenda, mengungsi ke Kota Maumere dan Maurole bagian utara Kabupaten Ende. Abu vulkanik mengganggu udara sekitar sehingga masyarakat menggunakan masker.
Memasuki April, bencana angin puting beliung merusak sekitar 210 unit rumah di Kecamatan Simpenan dan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tak ada korban jiwa dalam bencana alam ini. Namun satu orang terluka akibat tertimpa bangunan rumah. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp 500 juta.

Pada Jumat (19/4/2013), gempa dengan kekuatan 4,8 SR mengguncang dataran tinggi Dieng. Gempa berada pada 7,29 lintang selatan dan 109,88 bujur timur atau 11 kilometer barat laut Wonosobo, Jawa Tengah, dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa tektonik ini diperkirakan pusatnya berada di Desa Tanji Gugur, Kecamatan Bawang. Getaran gempa terasa sampai ke tiga Kabupaten, yakni Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang dengan durasi 5-30 detik per gempa.

Sejak pukul 19.00-20.03 WIB, terekam 160 kali gempa dan terasa hampir di seluruh wilayah Dataran Tinggi Dieng dengan skala MMI III-V. Gempa tersebut mengakibatkan 248 rumah mengalami kerusakan, yakni 48 rumah rusak berat, 61 rumah rusak sedang, dan 139 rumah rusak ringan dengan total kerugian mencapai Rp 2 miliar. Sedangkan kerusakan fasilitas umum seperti bangunan sekolah, masjid, dan pelayanan kesehatan, secara keseluruhan sebanyak 21 bangunan dengan total kerugian mencapai Rp 1,3 miliar.

Dua bulan berikutnya, tepatnya Sabtu (22/6/2013), pukul 12.42 WIB, gempa berkekuatan 5,4 SR mengguncang Lombok Barat, NTB. Sebanyak 5.286 rumah rusak dan 30 orang luka-luka. Pusat gempa berada pada kedalaman 10 km dan berlokasi 14 km barat laut Lombok Barat.

Guncangan akibat gempa terasa hingga wilayah Lombok, Denpasar, Gianyar, dan Karangasem Bali. Kerusakan bangunan terparah terjadi di Kecamatan Tanjung, Kecamatan Gangga, dan Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara Provinsi NTB.

Awal bulan Juli, gempa kembali mengguncang bumi Serambi Mekah, Provinsi Aceh. Gempa bumi berkekuatan 6,2 SR yang terjadi pada Selasa (2/7/2013) ini, mengakibatkan 30 orang tewas (12 orang di Kab. Bener Meriah dan 18 orang di Kab. Aceh Tengah). Korban luka-luka sebanyak 349 orang (158 orang dirawat inap dan 191 orang rawat jalan). Sementara korban hilang, sebanyak 17 orang, serta 1.700 warga terpaksa mengungsi.

Gempa juga mengakibatkan sedikitnya 4 ribu rumah rusak dan 13 unit fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Diaantaranya berupa rumah sakit, puskesmas, poskesdes, polindes dan rumah dinas dokter. Gempa susulan terjadi pada Kamis (4/7/2013), tercatat sampai 16 kali. Status tanggap darurat gempa diberlakukan selama satu minggu hingga Selasa (9/7/2013).

Memasuki Agustus, tepatnya Sabtu (10/8/2013), pukul 04.27 WITA, Gunung Rokatenda di NTT kembali meletus. Letusan terjadi dengan kekuatan 10-40 amplitudo dan lama letusan sekitar 7 menit. Letusan ini menyemburkan abu vulkanik dengan ketinggian antara 1.500 – 2.000 meter dan menutup sejumlah desa yang ada di pulau tersebut. Letusan diikuti lahar panas, yang mengakibatkan sedikitnya lima orang tewas. Sementara tak kurang dari 3 ribu warga mengungsi.
Selain gunung meletus, bencana puting beliung masih melanda negeri ini. Pada Oktober, hujan deras disertai angin puting beliung terjadi wilayah Bogor sejak Minggu (27/10/2013) petang hingga Senin (28/10/2013) dini hari. Sedikitnya, 400 rumah di tiga kecamatan di Kabupaten Bogor rusak berat dan ringan. Ratusan rumah yang rusak tersebar di dua kecamatan, yakni Tenjolaya dan Pamijahan.

Pada bulan berikutnya, Minggu (3/11/2013) sore, angin puting beliung menerjang tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukabumi, menyebutkan angin puting beliung merusak rumah warga di tiga kecamatan, yakni Parungkuda, Nagrak dan Cibadak.

Dua hari kemudian, pada Selasa (5/11/2013), hujan deras disertai angin puting beliung menerjang lima kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lima rumah ambruk, ratusan rumah lain rusak, jaringan listrik padam, pohon bertumbangan dan satu korban luka ringan tertimpa reruntuhan.

Pada Senin (11/11/2013) sore, angin puting beliung juga menerjang Nganjuk, Jawa Timur. Bencana ini mengakibatkan dua orang tewas, dan sejumlah kawasan listriknya padam total. Selain itu, lima rumah ambruk hingga rusak parah, dan sejumlah lainnya rusak ringan.

Bencana lain di November adalah gunung meletus. Pada Sabtu (23/11/2013), Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara meletus untuk kesekian kalinya. Dalam sehari terjadi tiga kali letusan. Abu vulkanik dari kawah Sinabung menyembur setinggi 3,3 kilometer.

Sinabung dan Banjir Sumbar

Akibat letusan Gunung Sinabung, sebanyak 6 ribu jiwa lebih terpaksa mengungsi. Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengingatkan bahwa potensi erupsi susulan Sinabung masih tinggi. Ada dua ancaman dalam letusan Sinabung, yakni material erupsi dan banjir lahar dingin. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status siaga (level 3) untuk Gunung Sinabung.

Selanjutnya, Rabu (11/12/2013), bencana angin puting beliung menghantam wilayah Bali. Bencana tersebut terjadi di Pemogan dan Pedungan, tepatnya di Banjar Ambengan dan Perumahan Jadi Pesona Jalan Pulau Moyo. Peristiwa yang terjadi pada pukul 13.30 WITA tersebut, 293 rumah warga rusak dan lima warga terluka.

Gunung Sinabung kembali meletus. Gunung yang terletak di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), sejak Senin (30/12/2013) hingga Selasa (31/12/2013) terjadi, sembilan kali erupsi. PVMBG hingga saat ini menetapkan Status Awas (level IV).

Berdasarkan data BNPB, pada Senin (30/12/2013) hingga pukul 18.00 WIB, jumlah pengungsi mencapai 19.126 jiwa (5.979 KK) yang tersebar di 31 titik pengungsian. BNPB pada Selasa (31/12/2013) melakukan rapat evaluasi dan koordinasi bersama PVMBG dan kementerian/lembaga lainnya untuk mematangkan rencana kontinjensi dengan skenario terburuk dari erupsi Sinabung.

Di pengunjung tahun 2013, terjadi bencana banjir dan longsor di enam daerah di Sumatera Barat. Selain meredam rumah dan fasilitas lainnya, bencana ini mengakibatkan satu orang hanyut, Kevin (14 tahun) di Kecamatan Batang Kapeh Nagari Anakan. “Pada pukul 8.50 korban yang hanyut sudah ditemukan,” kata Yazid Fadhli, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Sumbar, kepada NEFOSNEWS.COM Selasa (31/12/2013).

Berdasarkan BPBD Sumbar, bencana banjir dan longsor ini akibat hujan deras yang terjadi sejak Sabtu (28/12/2013) hingga Minggu (29/12/2013) pagi. Di Kecamatan Sungai Pagu, banjir merendam sekitar 200 rumah dengan ketinggian air 30-80 sentimeter. Sedangkan di Nagari Salayo, Kabupaten Solok, banjir merendam sekitar 150 rumah, Longsor juga mengakibatkan jalan Malalak antara Sicincin-Bukittinggi di Kabupaten Agam terputus.

Banjir, tanah longsor dan gunung meletus adalah bencana yang tak bisa dielakkan kehadirannya. Namun, kesiapsiagaan atau mitigas bencana tetap menjadi prioritas utama agar tidak lagi banyak korban jiwa yang berjatuhan. (ima rusdiana/rusman)

* Kaleidoskop Lingkungan 2013 (pernah dimuat di website nefosnews.com)

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Lingkungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s