Presiden Baru yang Pro Pertanian Sebuah Keniscayaan

Dua calon presiden dan calon wakil presiden Indonesia periode 2014-2019 telah mendeklarasikan diri bertarung dalam pemilihan yang akan berlangsung Juli mendatang. Siapapun presidennya, perbaikan sektor pertanian menjadi sebuah keniscayaan.

Indonesia sejak dulu dikenal sebagai negara agraris. Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Indonesia bak gadis cantik yang banyak diperebutkan negara-negara lain. Komoditas pertanian Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah dengan negara lain. Namun, sayangnya masih banyak catatan persoalan yang mesti diperbaiki dalam menggerakan sektor pertanian.

Setidaknya hal itu diakui oleh Suswono, Menteri Pertanian Republik Indonesia. Menurut Suswono, banyak persoalan-persoalan yang sangat mendasar terkait dengan pertanian. Masalah itu, lanjut Suswono, tidak hanya Kementerian Pertanian saja yang bisa menyelesaikannya. “Masalah yang crusial adalah terkait dengan pangan,” jelas Suswono, pada forum wartawan pertanian di Bogor, pertengahan Mei lalu.

Kader Partai Keadilan Kesejahteraan (PKS) ini mengatakan, banyak yang memprediksi bahwa konflik antar negara kedepannya dikarenakan persoalan pangan. “Persoalan yang paling mendasar untuk para pemimpin ke depannya ialah apakah ada kemauan politik untuk menghadapi persoalan pertanian,” ujar Suswono.

Sumber daya alam Indonesia sebenarnya sangat cukup memadai. Persoalannya menurut Suswono, apakah muncul keinginan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. “Untuk siapa saja yang nantinya akan memimpin Kementerian Pertanian sudah ada landasan-landasan yang memang harus dilakukan,” kata Suswono.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian meninggalkan satu dokumen penting, yaitu Konsep Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045. Diakui Suswono, konsep yang dimaksud itu diadopsi dari undang-undang Pertanian di Denmark. Suswono berharap landasan terkait pertanian tersebut bisa diteruskan oleh presiden yang terpilih.

Sementara itu, Faisal Basri, Pengamat Ekonomi, menuturkan kebijakan membuka kran impor sebesar-besarnya memungkinkan mematikan penghidupan petani di tanah air. Selain itu, kondisi infrastruktur, misalnya pelabuhan yang memadai harus menjadi perhatian serius.
“Pemimpin yang diperlukan adalah pemimpin yang punya visi maritim. Dalam Keppres yang dikeluarkan Presiden SBY tidak ada satu sen-pun digunakan untuk pembangunan pelabuhan. Gila itu,” tegas Faisal.

Agaknya, apa yang disampaikan Faisal ini memiliki alasan. Pasalnya, potensi produk Indonesia sebenarnya tidak kalah bersaing dengan produk impor, namun dibenamkan potensinya karena posisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurutnya, laut bukan pemersatu tapi memisahkan potensi-potensi ekonomi dan membuat petani tak dapat bersaing. Sebut saja dari segi harga, komoditas pertanian dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk impor. “Membuat petani kita gagal atau tidak mampu mengirimkan produknya ke pusat-pusat konsumen. Karena habis diongkos. Bukan salah petaninya. Karena jeruk medan proses perjalanannya ke Jakarta mengggunakan truk, sementara jeruk impor diangkut menggunakan kapal pakai pengatur suhu,” kata Faisal.

Permasalahan pertanian tidak hanya sampai disitu saja. Dalam perbandingan ekspor dan impor juga menjadi catatan penting untuk disikapi. Biaya angkut untuk ekspor menurut Fasial sangat memprihatinkan. “Indonesia berada di posisi tiga termahal di Asean, setelah Brunei Darussalam dan Kamboja. Sementara, biaya impor komoditas pertanian, Indonesia diposisi tiga termurah di Asean,” jelas Faisal.

Siapun presidennya, perbaikan sektor pertanian menjadi sebuah keniscayaan. Agar para petani di negeri yang kaya ini dapat berdaulat. -Rusman
(Tulisan ini juga dipublish di majalah GREENOLA, edisi Juni 2014)

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di KENARI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s