Misteri Ketidakhadiran Daniel Purba saat Raker Komisi VII

Tidak hadirnya Daniel purba, mantan anggota Tim Reformasi Tata Kelola Minyak & Gas yang dipimpin oleh Faisal Basri di rapat dengar pendapat DPR RI Rabu malam kemarin (20/5) mengundang tanya beberapa anggota DPR Komisi VII. Utamanya dipertanyakan langsung oleh Ketua Komisi VII Kardaya Warnika dari fraksi Gerindra. Anehnya, Faisal pun tidak mengetahui kenapa Daniel tidak hadir malam ini. Padahal dia yakin Daniel tentunya tahu bakal andanya undangan dari Komisi VII yang antara lain menangani sektor Migas ini.

Seperti diketahui, Daniel Purba adalah mantan Vice President Petral (PT. Pertamina Energy Trading Ltd), perusahaan yang dikendalikan oleh para mafia migas di negeri ini ketika Direktur Utama Pertamina dijabat oleh Ari Sumarno, kakak kandung Rini Suwandi yang saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN.

Daniel Purba ini pernah juga menjabat sebagai Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina dari tahun 2008 s/d 2009 yang silam. ISC ini dibentuk untuk mengambil alih fungsi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran dalam hal impor mengimpor bahan bakar minyak ke negara kita.

Semua instruksi dan perintah tentang impor minyak, termasuk di dalamnya terkait soal harga, jumlah volume, serta schedule pengiriman, semuanya di bawah kendali ISC Pertamina itu.

Dalam operasionalnya, ISC ini justru paling sering bikin rugi Pertamina, contohnya penjualan Greencoke 300.000 MT yang akan dijual ke SSM di Eropa dan Xijiang di China. Bukannya mereka langsung jual ke pembeli akhir, ISC justru menjualnya melalui Paramount Petrol dan Orion Oil, lalu melalui Mitsubishi dan Thyssen, baru kemudian dijual ke pembeli akhir, SSM di Eropa dan Xijiang di China itu. Aneh, bukan?

Bahkan bukan itu saja. Pertamina sempat kerugian sebesar US$ 2,400,000.00. ISC juga seringkali menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan solar dan avtur dalam negeri. DPR RI sempat bereaksi keras gara-gara kerugian Pertamina yang terlanjur menyewa Tanker sebesar US$ 900,000.00 per bulan untuk menampung kelebihan pasokan, plus membayar tenaga ahli sebesar US$ 15,000,000.00.

Pada tahun 2006 sampai tahun 2008 yang silam, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI pernah melakukan penelusuran dan menemukan kerugian Pertamina ratusan milyar rupiah akibat membeli minyak mentah melalui calo trader Concord Energy Pte Ltd.

Lantas seberapa runyam Daniel Purba ini dalam kaitan mata-rantai mafia migas di tanah air? Hal ini harus ditelusur berdasar kedekatan Daniel Purba dan Hin Leong. Waktu Daniel jadi Vice Presiden Petral dibawah Ari Sumarno sewaktu menjabat direktur di Petral dan Dirut Pertamina, semua solar impor dibeli dari Hin Leong yang berteman dengan Daniel Purba.

Hin Leong ini adalah perusahaan Trader dan Storage di Singapura paling besar untuk perdagangan solar. Perusahaan ini terkenal suka membeli solar selundupan dari Indonesia. Dan mereka ini suka menaikan harga mops sehingga merugikan Indonesia. Hal ini dimungkinkan berkat koneksi kedekatannya dengan the Sumarno Family. Dan Daniel Purba, orang dekat Ari Sumarno.

Terkait ketidakhadiran Daniel Purba di DPR Komisi VII rabu malam kemarin, tentu mengunang misteri. Apalagi jawaban Faisal Basri pun tidak memperjelas duduknya perkara. Sikap Faisal Basri sejak ditunjuk sebagai Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) dalam menyikapi keberadaan Daniel Purba dalam tim ini memang jadi tanda tanya besar.

Sedari awal Faisal begitu gigih menyerang Petral, tapi anehnya malah memuji-muji importir Hin leong. Padahal, justru skema ISC yang melekat dengan Daniel Purba inilah, seluruh skema mafia migas berkedok importir ini disetel dan dirancang. Maka itu aneh ketika RTKM ini dibentuk justru mengikutsertakan Daniel Purba di dalam komisi tersebut.

Lebih aneh lagi, ketika seorang anggota Komisi VII mendesak Faisal untuk menyebut nama beberapa terkait mafia migas, alumni FE UI ini tidak bersedia menjawab.

Maka itu logis, jika KPK seharusnya segera lakukan audit kekayaan Daniel Purba yang sekarang menjadi anggota tim reformasi migas di bawah Faisal Basri. Apalagi, dengan tidak hadirnya Daniel Purba dalam rapat dengan DPR Komisi VII, kiranya sudah waktunya untuk membuka kotak pandora yang telah bikin rumit tata kelola migas di tanah air sejak sera reformasi bergulir pada 1998.

Lebih dari itu, yang saat ini paling mengkhawatirkan adalah ketika rantai suplai yang mengaitkan keuangan, investasi dan bahan baku energi diputus, maka hal itu sama saja dengan membuka pintu selebar-lebarnya bagi swasta untuk menguasai sektor migas dari hulu sampai ke hilir. Sialnya, UU No 22/2001 justru membuka jalan ke arah itu.

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s