Silang Pendapat Faisal Basri Vs Pertamina Soal Minyak Sonangol, Siapa Bohong?

Minyak impor dari Sonangol Angola sebanyak kurang lebih 1 juta bbls/bulan gagal bongkar di terminal Balongan akibat minyak mentahnya beku dan dialihkan ke kilang Cilacap. Kontan saja kabar ini membuat terhenyak banyak kalangan. “Masuk itu barang?,” sentak Yusri Usman, pemerhati kebijakan energi nasional, kepada theglobal-review.com, Senin (8/6/2015) di Jakarta.

Mengutip informasi yang dikeluarkan Faisal Basri yang dimuat Majalah Gatra Nomor 29 (21-27 Mei 2015), mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu mengatakan bahwa minyak dari Sonangol membeku ketika akan dimasukkan ke kilang Balongan melalui pipa, karena tidak cocok dengan kilang Balongan. Minyak itu pun harus bersandar ke dermaga di Cilacap dan memerlukan tambahan ongkos.

Menurut Yusri, kebijakan untuk mengalihkan minyak mentah tersebut ke kilang Cilacap yang tujuan semula ke kilang Balongan, ini dianggap pelanggaran berat. “Bisa diduga melakukan kejahatan korporasi yang merugikan negara,” tegas Yusri. Padahal menurut SOP dalam proses setiap pembelian minyak mentah harus disertai kajian mendalam.

Oleh sebab itu, kata Yusri, bagian Planning & Evaluation di bawah SVP Refining Operation Pertamina, Michael Ricardo Sihombing, paling bertanggungjawab apabila minyak mentah Sonangol ditolak atau gagal diolah di kilang Balongan. “Dari informasi yang didapat minyak mentahnya membeku. Bisa jadi minyak mentahnya mengandung ‘wax/parafin berat’ dan masuk tipe minyak berat, residunya di atas 55% yang hanya cocok, kalau pun dipaksakan di kilang Balongan diblending dengan minyak mentah lainnya yang lebih ringan,” ungkap Yusri. Jadi pengalihan minyak mentah Sonangol dari kilang Balongan ke kilang Cilacap bisa dibilang bentuk kejahatan yang bisa merugikan Pertamina.

Wianda Pusponegoro, VP Corporate Communication Pertamina, menyangkal Pertamina bekerjasama dengan Cina Sonangol. “Kami tidak pernah kerjasama dengan China Sonangol. MoU tersebut tidak ada eksekusi hingga saat ini. Jadi semua tuduhan tersebut tidak relevan, yang ada kerjasama antara Sonangol EP dan Pertamina untuk minyak yang sesuai spesifikasi kebutuhan di FOC 2 Cilacap. Tidak pernah ada tujuan ke Balongan,” ucap Wianda, Jumat (5/6/2015).

Komentar Wianda ditanggapi Yusri. “Kalau masuk ke FOC 2 kilang Cilacap untuk unit RCC (residual Catalyc Cracking ) dan unit Paraxylene apakah bisa cocok. Ini sangat bisa merugikan kilang dalam operasionalnya,”kata Yusri. Sedangkan Faisal Basri, mengatakan, “Saya tak pernah mengatakan China Sonangol. Wianda betul”. Hal tersebut dikatakan Faisal, Jumat (5/6/ 2015) di Jakarta. Faisal juga mengulangi bantahannya. “Soal Sonangol saya yakin. Yang saya katakan bukan China Sonangol. Bisa dibuktikan di rekaman,” kata Faisal, Sabtu (6/6/ 2015) di Jakarta.

Hal sebaliknya pihak Tim Wartawan Gatra yang mewancarai Faisal Basri, tegas menyatakan, “Bahwa rekaman wawancara sesuai yang tertulis lengkap dalam Majalah Gatra edisi 29 periode 21 Mei sd 27 Mei 2015.” Bahkan, lanjut tim Wartawan Gatra, Faisal menyatakan semua keterangan yang diberikannya bukan off the record, dan dia bertanggung jawab atas keterangannya tersebut. Yusri meminta agar kesimpang-siuran berita ini harus diusut tuntas siapa yang berkata benar dan bohong. “Rakyat sudah capek dibohongi melulu,”tandas Yusri.

Seperti diketahui, sejak awal tidak sedikit yang meragukan kebijakan impor crude oil Sonangol, yang konon, mendapat discount 15% dari harga pasaran. Namun the show must be go on, MOU dari G to G menjadi B to B ditandatangani oleh Pertamina dengan Sonangol EP pada 31 Oktober 2014, yang disaksikan oleh Wapres Jusuf Kalla dan Wapres Angola Manuel Domingos Vicente. Proyek kerjasama ini sempat dijadikan ikon penghematan Rp 15 triliun per/tahun dengan suplai 100.000 bbls per/hari.

Bagaimana faktanya? “Faktanya berbanding terbalik dari konsep awalnya,” tegas Yusri Usman. Dari bocoran surat menyurat antara PES dengan Sonangol EP ternyata semua transaksi berdasarkan harga normal di pasaran internasional. Menurut alumnus Geologi UGM ini, dalam rapat PES dengan Sonangol EP (dihadiri oleh China Sonangol, diwakili Mr. Haster Mack, orang kepercayaan Mr. Sam Pa) berpartner dengan perusahaan PT Surya Energy Raya membentuk PT Asri Darma Sejahtera dengan BUMD di Blok Cepu.

Lagi-lagi rakyat dibuat bingung atas perbedaan pernyataan mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas dengan Pertamina. Yusri minta agar anggota DPR membentuk Panja untuk mengusut tuntas masalah ini termasuk membuka isi rekaman rapat antara Tim Reformasi Tata Kelola Migas dengan Direktorat Pengolahan Pertamina, ISC dan PES Singapore pada 17 Desember 2014 di kantor Kementerian ESDM. (TGR/SB/R007)

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Media. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s