Jangan Sekali-kali Melupakan Nawa Cita dan Trisakti

“Indonesia menolak diperlakukan seperti seekor burung kenari dalam sangkar emas dan diberikan makan yang enak-enak. Indonesia ingin diperlakukan sebagai burung Garuda yang berada di atas batu cadas, tapi bebas mencarikan makanannya sendiri. Jangan membanjiri dolar Anda ke Indonesia dengan ikatan, karena pasti ditolak.”

Itulah pernyataan lugas,tegas, dan sikap berani dari Bung Karno, yang disampaikan Putera sang Fajar ini saat berkunjung ke Kongres Amerika Serikat pada 1955. Sikap ini muncul disaat Presiden Dwight Eisenhower menyiapkan skenario untuk membujuk Bung Karno. Ketika itu Eisenhower membiarkan Bung Karno menunggu berjam-jam. Akan tetapi Bung Karno menolak semua bujuk rayu ditujukan untuknya. Bahkan Bung Karno memberikan pernyataan keras dalam forum Kongres Amerika Serikat tersebut.

Tentu sikap Bung Karno ini membuat kita bangga sebagai bangsa yang besar. Kita angkat topi kepada Bung Karno. Walaupun Bung Karno menyadari bahwa dirinya menjadi bahaya besar bagi Amerika-Inggris di era 1960-an, bahkan jauh lebih besar daripada Uni Soviet dan Cina.

Bung Karno ingin memutuskan ketergantungan Indonesia terhadap negara-negara kapitalisme. Bung Karno tidak mau menjual konsesi-konsesi sumber daya alam Indonesia. Konsesi harus disetujui apabila Indonesia mengambil manfaat dalam jumlah yang mayoritas. Itulah kesadaran negosiasi bangsa yang bermartabat. Lantas, bagaimana dengan Indonesia saat ini?

Liberalisasi sudah sangat berlebihan. Dominasi asing yang tidak terkontrol akan membuat kita kehilangan kedaulatan. Penjajahan modern tidak lagi dilakukan secara fisik, tetapi lebih smart, utamanya di bidang ekonomi.

Saat Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pertamanya di gedung DPR-MPR-RI, Senin (20/10/2014), Jokowi sudah “memamerkan” diri sebagai sosok yang tak pernah melupakan ajaran Trisakti.

Mirisnya setelah terpilih, pemerintahan Jokowi-JK terkesan tidak memperlihatkan keseriusannya menjalankan ajaran Trisakti dan Nawa Cita. Janji Jokowi untuk melaksanakan Trisakti dan Nawa Cita masih jauh panggang dari api. Jadi, jangan sekali-kali melupakan Trisakti dan Nawa Cita.

—-
Artikel ini terpublis juga di Editorial Tabloid Nusantara Edisi 7

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s