Menilik Rombak Kabinet Kerja Jilid Dua

Perombakan Kabinet Kerja atau Reshuffle yang dilakukan Presiden Joko Widodo pada awal Agustus 2015 sepertinya tak berbuah manis. Pasalnya, pasca reshuffle tidak bisa merubah keadaan, utamanya dalam menstabilkan kondisi ekonomi Indonesia. Mirisnya lagi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Kabinet Kerja ini jelas sangat jauh dari Nawa Cita, nilai-nilai perjuangan yang menjadi slogan duet Jokowi-Jusuf Kalla saat kampaye.
Perombakan kabinet jilid dua mulai santer mencuat ke publik. Dan ini agaknya menjadi sebuah keniscayaan bagi Jokowi merealisasikannya. Beragam alasan yang menjadi poin penting mengapa Jokowi mesti melakukan bongkar pasang kabinetnya.

Masuknya Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi pendukung di pusaran pemerintahan Jokowi-JK tidak serta merta tanpa alasan. Disinyalir partai yang dipimpin Zulkifli Hasan ini “jeli” melihat akan ada reshuffle lanjutan. Tentu saja, bila reshuffle jilid dua terjadi, partai berlambang matahari ini akan meminta jatah posisi menteri. Atau setidaknya akan mendapat tawaran untuk meramaikan kabinet kerja ini. “Mana ada makan siang yang gratis”. Setidaknya idiom politik ini bisa saja berlaku.

Aroma akan terjadinya reshuffle jilid dua semakin jelas. PDI Perjuangan sebagai partai pengusung pemerintahan Jokowi-JK sudah memprediksi akan terjadi. Setidaknya, hal ini sempat diungkapkan Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno.

Malahan, politisi senior berlambang banteng moncong putih ini memperkirakan rombak kabinet jilid dua akan berlangsung pada Oktober tahun ini. “Ya perkiraan saya Oktober. Yang tahu persis pastinya Presiden,” kata Hendrawan, seperti yang dikutip dari media online, beberapa waktu lalu.

Yang menarik untuk ditelaah, mengapa PDI Perjuangan begitu yakin reshuffle kabinet gelombang kedua akan terjadi? Apa karena PDI Perjuangan tidak puas dengan komposisi kabinet baru yang sudah diumumkan Jokowi pada awal Agustus lalu?
Setidaknya, secara diplomatis Hendrawan beralasan reshuffle kabinet gelombang pertama belum memenuhi ekspektasi publik. Menurut Hendrawan, wajar karena Presiden memang tak melakukan reshuffle besar-besaran agar tak terjadi gejolak politik. Pendapat Hendrawan ini setidaknya memiliki arti, bahwa Jokowi akan melakukan rombak total kabinet.
“Presiden kan memegang rapor kinerja menteri. Dan yang jelas Presiden kan mempunyai kewajiban untuk membangun dream team, kabinet impian bukan kabinet bermimpi,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya, saat ditemui tim redaksi Nusantara, di kantornya, bilangan Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2015). Yunarto juga menyakini Jokowi kembali akan merombak kabinetnya.

“Saya meyakini Jokowi akan melakukan reshufle selanjutnya. Tetapi dilakukan dulu perimbangan politik. Jadi ketika stabilitas politik sudah terjaga, lebih mudah bagi Jokowi untuk melakukan reshufle dalam konteks manajerial,” pungkas Yunarto.

Reshufle Jilid Dua, Siapa Menteri yang Akan Dibidik

Jauh sebelum reshuffle gelombang pertama terjadi, PDI Perjuangan begitu getol menyorot beberapa menteri yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan partai. Sebut saja Menteri Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Sudirman Said dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. Walaupun belakangan, sasaran tembak yang diarahkan kepada Sudirman Said mulai meredup. Lalu bagaimana dengan Rini Soemarno? Akankah lulusan Wellesley College, Masschusetts, Amerika Serikat ini masih bertahan di kabinet?

Melihat track record -nya, agak Rini masih tetap menjadi sasaran tembak untuk dicopot dari kabinet. Pasalnya, Rini terlanjur oleh publik sebagai menteri “penjual” aset-aset negara. Terakhir, berita yang mencuat di media, bahwa Rini menjaminkan bank-bank milik BUMN, seperti Bank BRI, Bank BNI dan Bank Mandiri hanya untuk mendapatkan pinjaman sebesar 50 triliun dari pemerintah Cina.

Tentu saja tindakan Rini ini sangat bertentangan prinsip Trisakti, prinsip dasar Jokowi-JK dalam menjalankan pemerintahan. Utamanya, poin yang berbunyi Berdikari di bidang Ekonomi.

Dan bila Rini tetap bertahan menjadi menteri, ini akan menjadi krikil yang dapat memperlebar kepercayaan publik terhadap Kabinet Kerja secara keseluruhan. Agaknya, PDI Perjuangan, sebagai partai utama pengusung pemerintahan Jokowi-JK tentu akan semakin cemas.

Apalagi sebelumnya, Rini sempat memunculkan polemik sehingga mengundang “kemarahan” dari para kader-kader PDI Perjuangan, termasuk “kemarahan” dari para menteri yang notabene dari kader partai pemenang pemilu 2014 ini.

Reshufle, Faktor Manajerial dan Kompromi

Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya berpendapat, reshufle kabinet di pemerintahan kita tidak dapat memenuhi kriteria semestinya. Sistem presidensial sesungguhnya, reshufle adalah sikap manajerial untuk mengubah postur kabinet, termasuk jajaran kabinet, dari yang tidak layak ke layak.

“Jadi hanya tindakan manajerial biasa. Tapi dalam kabinet kita yang terjadi bukan kabinet presidensial tetapi kabinet politik, karena dibentuk berdasarkan bukan orang profesional,” ujar Yunarto.

Akibatnya, setiap perubahan kabinet akan memiliki dua faktor; faktor manajerial, tetapi juga ada faktor kompromi untuk perimbangan politik. Jadi, reshufle yang baru saja dilakukan Jokowi merupakan kombinasi dua faktor, yaitu manajerial dan kompromi.

“Secara manajerial dibutuhkan pergantian orang-orang ekonomi karena tantangan utama pemerintahan Jokowi adalah perlambatan ekonomi global sehingga yang terpilih adalah pos-pos ekonomi. Tetapi di sisi lain ada keterbatasan, ada juga faktor kompromi politik,” tandasnya.

Ia mencontohkan, kompromi politik terjadi pada pergantian Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan dari Tedjo Edhy ke Luhut Pandjaitan, karena kurang diterimanya Luhut oleh banyak partai politik (parpol) menjadi Kepala Kantor Staf Presiden, lalu digeser menggantikan Tedjo yang kerap juga membuat pernyataan gaduh politik. Atau pula masuknya Pramono Anung sebagai Sekretaris Kabinet menggeser Andi Widjajanto yang kontroversial dan guna memuaskan PDI Perjuangan (PDIP) dalam komposisi politik.

Itu juga dapat ditilik pada pos pergantian Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Andrinof Chaniago yang kurang populer ke Sofyan Djalil. Jokowi menyadari tidak mungkin “membuang” secara politik Sofyan Djalil yang dekat dengan JK namun tidak “greget” di pos Menteri Koordinator Perekonomian.

Hal senada juga dikatakan Sekretaris Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo. Ia menilai reshuffle yang dilakukan Jokowi kental nuansa kompromi. Muncul kesan, Jokowi setengah hati melakukannya, karena sudah tidak tahan lagi dengan desakan dan tekanan dari berbagai unsur kekuatan pendukungnya.

“Reshuffle kabinet yang kompromistis itu terlihat pada pergantian menteri Sekretaris Kabinet dari Andi Wijoyanto ke Pramono Anung, dan pergantian Menteri PPN/Kepala Bappenas dari Adrinof Chaniago ke Sofyan Djalil. Andi dan Adrinof yang dikenal sebagai orang dekat dan sosok kepercayaan Jokowi, sepertinya diminta mengalah,” ungkap Bambang.

Menurutnya, dengan kompromi itu, Presiden Jokowi berharap tidak ada lagi rongrongan dari berbagai unsur kekuatan pendukungnya. Dengan Pramono Anung menjabat menteri Sekretaris Kabinet, Presiden berharap kader-kader PDI Perjuangan berhenti menekannya.

“Bisa dimaklumi kalau Presiden setengah hati melakukan perombakan itu, karena masa bakti Kabinet Kerja baru berjalan 10 bulan. Reshuffle hari ini otomatis merusak citra Presiden, karena akan muncul anggapan bahwa dia telah melakukan kesalahan memilih figur menteri pada awal pembentukan kabinet kerja,” ujarnya.

Apapun perombakkan kabinet jilid pertama, tidak berpengaruh pada kondisi perekonomian. Dan agaknya reshuffle kebinet jilid dua merupakan keniscayaan. Meskipun langkah mengganti para menteri tidak menjamin kondisi perekonomian Indonesia akan cepat membaik.

Faktor lain juga menentukan, yakni gaya kepemimpinan dan kebijakan yang dikeluarkan juga cukup mempengaruhi. Sejatinya, pemerintah Jokowi-JK tidak melupakan program-program Nawacita dan Trisakti. Dan rakyatpun berhak untuk menagih janji-janji Jokowi-JK. (RP/HL/HT)

Artikel ini juga terpublish di Tabloid Nusantara edisi 7

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s