Memposisikan Kembali Karang Taruna sebagai Agen of Change

Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan sepertinya tak banyak digandrungi oleh pemuda-pemudi di Indonesia. Ia seakan redup terkikis zaman. Padahal, Karang Taruna di era orde pembangunan saat itu, pernah mengalami kejayaan dan ikut mewarnai sisi-sisi kepemudaan Indonesia dengan kegiatan-kegiatan sosialnya. Kini, seiring dengan pergantian pimpinan pengurus di tingkat pusat, Karang Taruna berniat menjadi organisasi kepemudaan yang lebih modern.

“Memang dalam penguatan kelembagaan, kita ingin revitalisasi struktur Karang Taruna. Salah satu revitalisasinya adalah bagaimana menjadikan Karang Taruna ini sebagai organisasi sosial kepemudaan yang kuat dan modern dan professional,” tutur Didik Mukrianto SH, MH, Ketua Umum Karang Taruna Nasional periode 2015-2020.

Kedepan Karang Taruna akan dikelola lebih terbuka dan transparan. Dengan modernisasikan diri, Karang Taruna tidak menutup diri dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang ada. “Karena modernitas diri, organisasi itu bisa dilihat oleh publik. Akuntabilitasnya juga bisa diukur dan dievaluasi. Kemudian menggunakan teknologi tepat guna dan tepat sasaran, itulah yang akan kita kembangkan ke depan,” jelas Didik, yang juga politisi dari Partai Demokrat ini.

Tidak bisa dipungkiri dalam konteks membangun Indonesia di masa depan, peran dan keterlibatan pemuda tidak bisa dilupakan begitu saja. Sampai kapanpun, pemuda harus tetap menjadi agen perubahan. “Pastinya Karang Taruna harus mampu menjadi agen of change. Harus mampu menjadi ikon perubahan yang baik untuk kesejahteraan bangsa. Artinya, kita menyadari betul bahwa antara Indonesia, antara pemuda dan masa depan tidak bisa dipisahkan. Ini satu kesatuan. Lebih tepatnya perkembangan Indonesia, pemuda, Karang Taruna, dan masyarakat tidak bisa dipisahkan,” ujar Didik.

Posisi yang strategis ini membuat pemerintah menaruh harapan kepada pemuda yang memiliki jiwa sosial untuk berperan aktif sebagai agen perubahan, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang selalu menjunjung tinggi kesetiakawanan sosial.

Karang Taruna pun ikut mengambil bagian sebagai sosial kontrol terhadap ketidakadilan, ketidakmerataan dan kebijakan yang tidak berpihak. “Kita itu masih mampu menjadi subjek dalam perumusan persoalan-persoalan berlandaskan masalah sosial,” tegas Didik.

Sejak awal Karang Taruna selalu hadir bersama dengan masyarakat. Bila organisasi lain kuatnya ada di pusat, tapi kekuatan terbesar Karang Taruna ada di pedesaan. “Didesa kita selalu ada, hingga level Rukun Tetangga dan Rukun Warga,” ujar Didik.

LAHIR DARI KEPRIHATINAN ATAS KONDISI PEMUDA

Karang Taruna bukan organisasi musiman. Sejarahnya, Karang Taruna yang lahir di tahun 1960. Karang Taruna lahir sebagai organisasi kepemudaan yang prihatin dengan kondisi pemuda di saat itu. Pasalnya, ketika itu ditemui banyak pemuda yang putus sekolah, hidup di jalanan, kemudian terjadi konflik sosial antar pemuda. “Sekelompok pemuda di Jakarta Timur, sekitar Kampung Melayu pada 1960 akhirnya mendirikan organisasi bernama Karang Taruna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan pemuda saat itu,” tutur Didik.

Sebagai organisasi kepemudaan yang lahir ditengah keprihatinan pemuda di zamannya, Karang Taruna langsung mendapat respon positif dari Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Ali Sadikin. Bang Ali, begitu sangat mensupport semua kegiatan yang dilakukan Karang Taruna. Kemudian karena dinamika kegiatan positif Karang Taruna semakin kuat, ditahun 1960 itu pula akhirnya organisasi ini menjadi bagian organ dari government. Begitu sangat kentalnya kepeduliaan sosial melekat pada Karang Taruna, organisasi ini pun pembinaannya dibawah Kementerian Sosial Republik Indonesia, hingga saat ini.

Lambat laun oleh pemerintah pusat, Karang Taruna kemudian dikembangkan ke seluruh Indonesia. “Karena Karang Taruna lahir sebagai organisasi sosial, bukan organisasi masa secara umum, bukan organisasi politik, akhirnya diambillah, dibinalah oleh pemerintah dibawah Kementerian Sosial,” ujar Didik.

Hingga kini, secara struktur keorganisasian di tingkat pusat, Kementerian Sosial menjadi pembina fungsional. Di tingkat provinsi, Gubernur menjadi pembina fungsional. Sedangkan di Kabupaten Kota, Bupati dan Walikota menjad pembina fungsional Karang Taruna. “Di Kecamatan, ya pak camat. Di desa, ya kepala desa maupun lurah. Sampai hingga organ ke bawahnya yakni RT/RW. Jadi Pembina fungsionalnya clear, bahwa kita adalah legitimasi formal, termasuk SK Karang Taruna pun dikukuhkan dan diterbitkan oleh instansi setempat,” jelas Didik.

IKHTIAR MEMPLUBLIKASI KEMBALI KARANG TARUNA

Sejak awal berdirinya, Karang Taruna telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif hingga ke pelosok-pelosok desa di seluruh Nusantara. Namun, publikasi terkait eksistensi organisasi yang memiliki motto “Adhitya Karya Mahatva Yodha”, yang memiliki arti: “Membuat Pemuda yang Tangguh dan Cerdas” ini, masih sangat minim. Padahal, secara jangkauan geografis Karang taruna memiliki struktur kepengurusan di 70.000 desa di seluruh Nusantara.

Kini, pengurus Karang Taruna yang baru terpilih melalui Temu Karya Nasional, semacam ajang tertinggi organisasi Karang Taruna, yang berlangsung pada bulan Mei 2015 lalu ini menyadari, bahwa kehadiran media sosial menjadi sarana efektif untuk menyebarkan informasi terkait kegiatan-kegiatan. “Mau tidak mau kita harus sudah mulai mengkonsepkan informasi kepada publik melalui media sosial tersebut. Ini menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita memang selalu ada. Kalau tidak disuarakan melalui sosial media ini masyarakat akhirnya tidak mengetahui,” ujar Didik.

Diakui, hal yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus saat ini adalah membranding kembali untuk jangkauan di perkotaan. Artinya, Karang Taruna mesti bisa menyentuh dan mewarnai generasi-generasi muda di perkotaan. Ini menjadi tantangan yang tidak ringan, walau Karang Taruna telah memiliki jangkauan kerja yang sangat luas, hingga ke pelosok-pelosok Nusantara.

Ikhtiar dimasa mendatang, seiring perkembangan zaman yang berpacu dengan perkembangan globalisasi, Karang Taruna harus mampu menjadi moral force, harus mampu menjadi kekuatan moral bangsa ini. Untuk itu pengurus terpilih yang baru bertekad akan terus memperjuangkan, membentuk seluruh warga Karang Taruna di seantero Nusantara agar memiliki moral, etika dan keimanan yang kuat. “Dengan moral force, Karang Taruna ke depannya terus melakukan perlawanan atau perang terhadap problematika sosial. Khususnya pengangguran, kemiskinan, kenakalan remaja hingga kesenjangan sosial. Kita ingin menghalau kesenjangan itu agar jaraknya semakin tidak jauh,” tegas Didik.

PROGRAM-PROGRAM KARANG TARUNA

Pengurus periode 2015-2020 bertekad melakukan program-program terbaru yang lebih strategis. Rencananya, di tahun 2016 Karang Taruna akan membuka perwakilan luar negeri. “Pertama saya buka di Malaysia, karena TKI kita banyak. Problematika sosial juga tidak sedikit. Bukan hanya TKI nya saja, tetapi anak-anak TKI di sana terkait dengan pendidikannya dan moralnya. Kemudian kita ingin buka di Hongkong, Taipei, Australi dan Korea,” harap Didik.
Dalam waktu dekat, tepatnya Desember 2015 akan digelar Bulan Bakti Karang Taruna (BBKT), sebuah perhelatan tahunan yang menjadi khitan nasional Karang Taruna di seluruh Indonesia. “Untuk tahun ini sudah kita putuskan sekitar 4 desember nanti kita melakukan di Sulut,” ungkap Didik yang juga anggota komisi 3 DPR RI ini.

Di bidang ekonomi, Karang Taruna sudah memiliki produk-produk yang dihasilkan oleh Usaha Kecil Menengah (UKM). Selain itu, Karang Taruna telah memiliki Lembaga Bantuan Hukum (LBH), sebuah lembaga advokasi. Konsen lain yang tak kalah penting adalah Karang Taruna akan mendorong adanya RUU perbatasan. Pasalnya, konsen terhadap problem masyarakat di perbatasan bukan hanya melulu soal teritorial saja, tapi menyangkut juga subtansial lain yang berdampak pada ekonomi secara keseluruhan.

Untuk menuju organisasi yang moderen, hingga saat ini Karang Taruna sudah mengumpulkan sekitar 47 ribu data by name, by address, by phone maupun on call pengurus di desa. Pasalnya, Karang Taruna sangat membutuhkan komunikasi sosial yang utuh untuk menggerakkan program-program sosial bisa move on secara langsung.

Hingga saat ini telah banyak tokoh-tokoh penting bergabung menjadi warga Karang Taruna. Misalnya dari unsur politisi, pebisnis, professional dan para pakar yang ahli dibidangnya. “Saya ingin mengetuk (hati) mereka untuk bergabung. Kita bersama-sama ikut mengambil bagian berkorban untuk kegiatan sosial dan untuk bangsa,” harap Didik. ***

PROFIL SINGKAT KARANG TARUNA

Karang Taruna merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan, yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa/Kelurahan atau komunitas sosial sederajat, yang terutama bergerak dibidang kesejahteraan sosial.

Karang Taruna didirikan dengan tujuan memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada para remaja, misalnya dalam bidang keorganisasian, ekonomi, olahraga, ketrampilan, advokasi, keagamaan dan kesenian.

Karang Taruna pertama kali lahir sebagai problem solver terhadap masalah sosial generasi muda di kampung melayu tahun 1960 dan secara resmi berdiri di Jakarta tanggal 26 September 1960

Visi dan Misi

Visi : Kemandirian dan peran aktif Karang Taruna dalam penanganan masalah sosial.

Misi :
a. Menumbuhkembangkan prakarsa Karang Taruna dalam pembangunan kesejahteraan sosial.
b. Meningkatkan tanggung jawab sosial Karang Taruna dalam pembangunan kesejahteraan sosial.
c. Mengembangkan sistem jaringan dan kemitraan dalam penanganan permasalahan kesejahteraan sosial.

Landasan Hukum
1. Undang-undang no 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah tertanggal 15 Oktober 2004.
2. Peraturan Pemerintah No. 72 tentang Desa tertanggal 30 Desember 2005.
3. Peraturan Pemerintah No. 73 tentang Kelurahan tertanggal 30 Desember 2005.
4. Permensos RI Nomor 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna tertanggal 27 Juli 2005.
5. Permendagri RI Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga tertanggal 5 Februari 2007.

Keanggotaan Karang Taruna
Keanggotaan Karang Taruna menganut sistem stelsel pasif yang berarti seluruh generasi muda dalam lingkungan desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang berusia 11 tahun sampai 45 tahun, selanjutnya disebut sebagai warga Karang Taruna.

Pengurus Karang Taruna dipilih secara musyawarah dan mufakat oleh warga Karang Taruna di wilayahnya dengan memenuhi syarat-syarat:
a. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
c. Dapat membaca dan menulis.
d. Memiliki pengalaman serta aktif dalam kegiatan Karang Taruna.
e. Memiliki pengetahuan dan keterampilan berorganisasi, kemauan dan kemampuan, pengabdian di bidang kesejahteraan sosial.
f. Sebagai warga penduduk setempat dan bertempat tinggal tetap.

Forum-Forum Karang Taruna:
1. Temu Karya
2. Rapat Kerja
3. Rapat Pimpinan
4. Rapat Pengurus Pleno
5. Rapat Konsultasi
6. Rapat Pengurus Harian

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s