Menilik Mandegnya Regenerasi Kepemimpinan Parpol

Regenerasi kepemimpinan partai politik di Indonesia masih terbilang mandeg. Para figur politisi senior mendominasi parpol. Carut marut pola regenerasi parpol atau budaya mempertahankan status quo yang kental?

Bila melihat hasil pemilu legislatif (pileg) 2014 lalu, partai-partai papan atas seperti PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra dan Partai Demokrat masih terjebak dalam problem stagnasi kepemimpinan. Pasalnya, keempat partai itu masih dipimpin oleh figur-figur sentral, yang notabene para politisi senior di partainya.

Di PDIP misalnya, Sosok Megawati Soekarnoputri masih menjadi figur yang masih dipertahankan untuk memimpin partai. Bahkan, putri Proklamator ini telah menjadi sosok yang dikultuskan. Agaknya trah Soekarno masih menjadi pelekat dan panutan kader-kader partai.

Partai Golkar baru-baru ini telah melakukan rotasi kepemimpinan di internal partai. Munculnya Setya Novanto menjadi nakoda partai pohon beringin ini tidak lain karena terlampau “kuatnya” mantan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI, red) ini. Padahal sebelumnya, Setnov, begitu ia kerap dikenal publik, menjadi sosoran media dengan kasus saham freeport . Ketika itu dalam proses di Mahkamah Kehormatan Dewan, sebanyak sembilan anggota menyatakan Setnov terbukti melanggar kode etik kategori sedang dengan sanksi pencopotan dari Ketua DPR RI.

Di Partai Gerindra, sosok Prabowo Subianto masih menjadi tokoh sentral untuk memimpin partainya. Terpilihnya Prabowo menjadi ketua umum partai lambang kepala Burung Garuda ini oleh beberapa kalangan dinilai sangat cocok di tengah kondisi politik saat ini. Prabowo dinilai memiliki kemampuan mengelola internal partai. Pun di eksternal partai, Komandan Kopassus ini menjadi sosok cukup disegani.

Sementara di Partai Demokrat, dengan jadinya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua partai menjadi menarik perhatian. Pasalnya, setelah partai Demokrat dilanda oleh persoalan internal, mantan Presiden Republik Indonesia ini bermanuver “turun gunung” memimpin partainya. Carut marut partai yang pernah menjadi partai pemenang ini seoalah memaksa SBY untuk turun tangan.

Menilik kondisi regenerasi kepemimpinan partai-partai papan atas ini menadakan bahwa hasrat para politisi senior telah menghalangi terbukanya katup-katup regenerasi kepemimpinan di parpol yang ada. Padahal partai sebagai organisasi politik memiliki kelangsungan jangka panjang dan tentunya regenerasi kepemimpinan politik menjadi unsur yang sangat penting.

Menurut Airlangga Pribadi Kusman, pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, dengan melembagakan regenerasi kepemimpinan politik, secara bertahap parpol akan dapat memecahkan tantangan kelembaman birokratisasi. Sekaligus menghindari problem parpol pascaotoritarianisme, seperti politik dinasti dan nepotisme.

Doktor Kajian Ekonomi-Politik Asia Research Center Murdoch University ini juga menilai, problem kepemimpinan yang hierarkis sentralistis salah satunya berakar pada tidak berjalannya proses regenerasi kepemimpinan di internal parpol. Sebaliknya menurut Airlangga, kepemimpinan yang setara, partisipatoris, dan demokratik hanya dapat dibangun ketika proses regenerasi kepemimpinan partai berjalan baik.

Setidaknya parpol yang responsif dan adaptif terhadap tantangan demokratisasi adalah partai yang berhasil melembagakan dinamika perubahan di internal partai tersebut. Termasuk didalamnya, program regenerasi kepemimpinan parpol itu sendiri.

Melihat fenomena pentingnya kepemimpinan politik ini, Joseph S Nye (2008) dalam karyanya The Powers to Lead telah mengemukakan, pada abad ke-21 penggambaran kepemimpinan politik adalah pemimpin yang berada di pusat dari sebuah lingkaran, bukan figur yang memimpin secara top down dalam hierarki sentralistis.

Selain itu, prinsip partisipatoris atau gotong-royong sudah saatnya diperkenalkan dalam partai untuk memilih kandidat pemimpin. Dorongan demokratisasi partai semestinya juga terkait dengan hadirnya inovasi kelembagaan dari setiap parpol untuk mengelola aspirasi dan kebutuhan konstituen maupun masyarakat sipil.

Persoalan kepemimpinan memang masih menjadi pekerjaan rumah parpol yang ada. Tidak itu saja, parpol juga masih menghadapi kendala-kendala klasik, terutama parpol-parpol yang baru lahir. Misalnya, masih ada parpol yang kekurangan sumber daya manusia. Tidak hanya dalam hal kuantitas tetapi juga kualitasnya. Pengetahuan memahami arah perjuangan partai, yang sebenarnya sebuah program yang baik dalam kerangka partisipasi membangun negeri, salah ditafsirkan karena kualitas SDM di parpol sangat lemah.

Regenerasi, Kaderisasi dan Kualitas Parpol

Meminjam pendapat Akbar Tandjung, politisi senior partai Golkar, beberapa tahun lalu, lemahnya proses regenerasi dalam partai politik berpengaruh terhadap kualitas pemimpin dalam pemerintahan. Dipertegas oleh Bang Akbar, begitu ia kerap disapa, kaderisasi parpol di seluruh Indonesia sampai saat ini masih sangat lemah. Akibatnya, renegerasi pemimpin bangsa ini lambat dan tertinggal dibanding negara lain di dunia.

“Fungsi kaderisasi partai-partai kita masih sangat lemah. Bahkan bisa dibilang tidak ada sistem pengkaderan dalam partai-partai kita. Sehingga partai tidak bisa menempatkan kader-kader terbaiknya untuk memimpin ditingkat nasional,” kata Akbar, saat berbicara pada diskusi tahun lalu.

Sedangkan menurut penilaian Muradi, pengajar politik dan pemerintahan Universitas Padjajaran, Bandung, regenerasi dan proses kaderisasi adalah bagian dari mekanisme politik internal parpol yang harus dilakukan. Hal ini dilakukan agar parpol tetap dapat kompetitif dan merespon dengan baik dinamika politik yang terjadi.

Dijelaskan Muladi, ada beberapa pilihan regenerasi dan kaderisasi politik yang dapat dilakukan. Pertama, melakukan regenerasi politik dengan menyerahkan sepenuhnya partai pada kader-kader muda, sedangkan politisi seniornya memosisikan diri sebagai penasehat.

Kedua, regenerasi politik dengan memposisikan pimpinan parpol tetap dipegang oleh politisi senior, tapi operasionalisasi dan jabatan strategis dipegang oleh kader muda partai.

Ketiga, jelas Muradi, model peremajaan kepengurusan partai di mana kepemimpinan partai gabungan dari politisi senior dan kader muda. Pola ini relatif relatif baik dipraktikkan oleh Partai Kesejahteraan Sosial (PKS).

Sementara, dalam sebuah paparan tertulisnya, Anies Baswedan menilai, partai politik merupakan supplier utama pemimpin politik di Indonesia. Dan, memang satu diantara fungsi partai politik adalah kaderisasi. Akan tetapi menurutnya, menjalankan fungsi kaderisasi ini memerlukan situasi yang kondusif. Partai bisa melakukan kaderisasi bila kader sadar bahwa mereka memiliki peluang ”berkarier” di partai politik.

Lebih lanjut Anies menilai, apabila kader-kader muda melihat adanya peluang untuk menduduki posisi-posisi kunci di partai politik, kaderisasi di institusi parpol akan dinamis. Dengan begitu jelas Anies, partai politik bisa menjadi wahana untuk menjaring anak-anak terbaik Indonesia guna menjadi pemimpin politik, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional.

Agaknya, penyegaran kepemimpinan parpol di Indonesia melalui program regenerasi dan kaderisasi yang baik menjadi kebutuhan yang mesti dilakukan oleh parpol-parpol yang ada. Sehingga penilaian publik bahwa para figur-figur senior parpol yang hanya mempertahankan status quo tidak sepenuhnya benar, walaupun kesan itu sangat kental terjadi di setiap parpol. Ini bisa dimaklumi, namanya juga dunia politik, sangat sarat dengan kepentingan berkuasa. ******

*) Tulisan ini sebelumnya telah dimuat pada rubrik laporan utama majalah suara kahmi, edisi 1-September 2016.

Tentang rusman

kenali aku apa adanya...
Pos ini dipublikasikan di KENARI dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s